Monday, January 22adalahukum.com

TNC: Jangan Libatkan Anak-Anak Tonton Film Kekerasan

ADALAHUKUM.COM, – Jakarta. Beberapa hari ini masyarakat berdebat tentang perlu tidaknya ditayangkan kembali film G 30S/PKI. Bagi kaum dewasa tentu terjadi pro kontra baik mengenai persoalan konten film yang dianggap usang, penuh propaganda orde baru dan dianggap tidak sesuai sejarah sesungguhnya. Di lain pihak bagi kalangan militer penayangan film G 30S/PKI merupakan tayangan wajib yang akan melihat betapa kelompok Komunis di negeri ini harus dibasmi hidup atau mati demi mempertahankan Pancasila sakti, karena kaum komunis terutama PKI telah berupaya mengganti ideologi negara yakni Pancasila dengan Komunisme dan Marxisme.

Namun demikian, mungkin perdebatan tersebut tidak terlalu penting bagi orang dewasa, karena mereka bisa secara dewasa melihat sisi baik dan juga sisi buruknya. Berbeda hal nya dengan anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja belum mampu membedakan secara baik sisi baik dan sisi buruk sebuah tayangan, meskipun tayangan itu dikemas dalam bentuk film berlatar sejarah.

Menurut Ketua Yayasan Afta, Thalis Noor Cahyadi (TNC), sepanjang pengamatannya, film G 30/S/PKI banyak mengandung adegan kekekerasan dan sadisme yang tidak layak ditonton oleh anak-anak dan remaja. “Sebaiknya anak-anak dan remaja kita tidak menonton film tersebut” ujar mantan aktivis perlindungan anak ini.

Menurut Wakil Ketua Umum DPP APSI ini, Film G 30S/PKI silakan saja ditonton oleh orang dewasa, tetapi hendaknya jangan mengajak anak-anak dan remaja. Tugas pemerintah dan masyarakat memberikan perlindungan terhadap anak-anak dari aktivitas meniru adegan kekerasan yang ditayangkan. Anak-anak menurut Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) dan sesuai Konvensi Hak Anak adalah 0-18 tahun, usia-usia tersebut dari kandungan hingga usia SMA (remaja). Usia remaja menurut TNC, merupakan usia yang mudah meniru, bisa dibayangkan jika yang ditiru adalah adegan kekerasan.

Menurut Dosen UIN Sunan Kalijaga ini, beberapa penelitian psikologis menunjukkan bahwa dengan melihat banyak adegan kekerasan, rasa takut bisa melingkupi anak. Atau, yang berbahaya, anak menjadi berpikir bahwa kekerasan itu adalah hal yang biasa. Selain itu melihat tayangan kekerasan akan membuat anak kehilagan rasa empati, dan bisa jadi anak dapat melakukan aksi kekerasan, karena merasa bukan yang buruk untuk dikerjakan. “ yang paling mengkhawatirkan adalah anak yang melihat tayangan kekerasan adalah meniru dan tidak lagi tahu mana yang baik dan mana yang buruk” kata mantan aktivis GP Ansor ini.

Dikesempatan lain Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai film sejarah Pengkhianatan G30S/PKI tidak patut ditonton anak-anak. “Film Penghianatan G30S/PKI tidak patut ditonton anak-anak,” kata Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti.

Ia menyebut, KPAI memiliki sejumlah alasan penolakan terhadap film garapan sutradara Arifin C Noer itu. Pertama, film itu mempertontonkan sejumlah adegan kekerasan, seperti saat para perwira militer diculik dari rumahnya. Kemudian, mereka ditembak oleh pasukan Tjakrabirawa. Selain itu, terdapat adegan anggota Gerwani menyilet salah satu wajah korban.

Retno menyebut adegan kekerasan, baik verbal dan fisik, berupa penyiksaan dan pembunuhan dapat menimbulkan trauma buruk pada anak-anak. Karena itu, menurutnya, hal itu berdampak pada kondisi psikologis anak-anak. Kedua, banyak diksi yang mengandung kekerasan. Menurutnya, banyak diksi yang tidak dipahami anak-anak.

Ketiga, ia menyebut, masih banyak film-film sejarah yang lebih mendidik dan layak disaksikan anak-anak. Ia mengatakan, film sejarah harus membangkitkan rasa nasionalisme dan menstimulus cara berpikir kritis pada anak-anak. “Film-film perjuangan dan biografi para pahlawan bangsa Indonesia ada banyak dan layak dipelajari serta ditonton oleh anak-anak,” ujar dia.

Retno mengatakan KPAI mengimbau para orang tua mencegah anaknya menonton film Penghianatan G 30S/PKI.