Saturday, April 21adalahukum.com

TNC: Advokat itu Harus Bertaqwa

ADALAHUKUM.COM,- Yogyakarta. Banyaknya kasus hukum yang menimpa advokat, membuat keprihatinan berbagai pihak, termasuk bagi Wakil Ketua Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (DPP APSI), Thalis Noor Cahyadi. Menurut Thalis, banyaknya Advokat yang terjera kasus hukum tak lain adalah karena Advokat tidak lagi mengindahkan kode etik Advokat dalam menjalankan profesinya serta lupa terhadap Sumpah Advokat yang dibaca saat seorang Advokat diambil sumpahnya oleh Pengadilan Tinggi. Lebih lanjut Thalis memaparkan, bahwa integritas seorang Advokat terletak pada apakah seorang Advokat mampu menjadi seperti apa yang tertera dalam Pasal 2 Kode Etik Advokat Indonesia yang mana disebutkan bahwa “Advokat Indonesia adalah warga Negara Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap satria, jujur dalam mempertahankan keadilan dan kebenaran dilandasi moral yang tinggi, luhur dan mulia, dan yang dalam melaksanakan tugasnya menjunjung tinggi hukum, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, kode etik Advokat serta sumpah jabatannya”

Bunyi Pasal 2 ini seolah menggambarkan betapa seorang advokat Indonesia ini merupakan ‘manusia pilihan’ dan atau ‘mahkhuk mulia’ karena ia adalah insan yang bertakwa, jujur, siddik, amanah, dan berakhlak mulia. Oleh karenanya profesi advokat dianggap sebagai profesi yang terhormat (officium nobile). Terhormat karena kepribadiannya dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, kode etik dan sumpah jabatannya. Karena posisinya yang terhormat, maka seorang advokat diberikan kebebasan dan perlindungan hukum oleh undang-undang dalam menjalankan profesinya.

Oleh karenanya menurut Ketua Yayasan Afta ini, Undang-undang Advokat dan juga Kode Etik Advokat menjadi acuan utama bagi advokat dalam menjalankan profesinya. Namun demikian implementasi kode etik tersebut menjadi persoalan manakala tidak adanya pengawasan secara baik oleh organisasi advokat. Organisasi Advokat yang selalu dirundung konflik menyebabkan atau paling tidak berpengaruh pada implementasi nilai-nilai luhur yang ada dalam kode etik advokat. Berbagai kasus hukum yang menyeret advokat dalam “jejaring lingkaran setan” menyebabkan pudarnya “profesi terhomat” yang disematkan oleh undang-undang. Dalam kontek untuk mengembalikan “profesi terhormat” tersebut profesionalisme advokat menjadi mutlak diperlukan.

“Advokat yang hebat bukanlah advokat yang selalu menang dalam perkaranya, bukan pula yang selalu banyak kliennya, bukan juga advokat yang banyak hartanya, akan tetapi advokat yang hebat adalah advokat sebagaimana Pasal 2 Kode Etik Advokat Indonesia yakni advokat yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap satria, jujur dalam mempertahankan keadilan dan kebenaran dilandasi moral yang tinggi, luhur dan mulia, dan yang dalam melaksanakan tugasnya menjunjung tinggi hukum, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, kode etik Advokat serta sumpah jabatannya” tutup Advokat yang juga menjadi pengajar di UIN Sunan Kalijaga ini.