Monday, December 18adalahukum.com

Dr. Amran Suadi: PA dan APSI Punya Ikatan Emosional

ADALAHUKUM.COM, Jakarta. “Hubungan peradilan agama dengan advokat syariah tidak sekedar hubungan kerja, tetapi lebih dari itu antara peradilan agama dan advokat syariah memiliki keterikatan emosional. Hal tersebut disebabkan kesamaan pandangan dan substansi keilmuan”. Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Ketua Kamar Peradilan Agama Mahkamah Agung RI, Dr. Drs. H.  Amran Suadi, S.H., M.Hum., M.M, dalam Kuliah Umum Pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Advokat yang diselenggarakan DPP Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah.

Menurut Hakim Agung RI ini, di Indoensia, dengan gelar Sarjana Agama (S.Ag), Sarjana Hukum Islam (SHI) dan sekarang diubah cukup dengan Sarjana Hukum pada dasarnya lulusan Fakultas Syariah dan Hukum yang memiliki dimensi religius dan nilai nilai moral, tentu akan menjadi modal yang cukup signifikan. Legitimasi terhadap kredibilitas Advokat Syari’ah ini bukanlah mengada-ada, tetapi berdasarkan pengalaman empiris di lapangan. Sebagai pembanding Hakim Peradilan Agama yang hampir seluruhnya berlatar belakang sarjana Syari’ah kini telah memperoleh stigma positif sebagai hakim yang bersih dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Alumni Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga ini mengungkapkan bahwa penyiapan sumber daya manusia dan infrastruktur internal lembaga advokat syariah telah dilakukan dengan maksimal. Bahkan, penyiapan sumber daya manusia dan infrastruktur internal lembaga advokat syariah sudah dilakukan sejak menguatnya lembaga peradilan agama di Indonesia. Secara garis besar, respon tersebut berupa dua langkah startegis, yaitu penyiapan regulasi dan peningkatan kualitas para advokat syariah sehingga mumpuni untuk beracara di semua lembaga peradilan, khususnya peradilan agama.

Mantan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya ini menyatakan bahwa pada kenyataanya Mahkamah Agung selalu berupaya untuk terwujudnya advokat syariah yang mandiri dan profesional. “ Sebagaimana telah disinggung di atas, peradilan agama sebagai representasi Mahkamah Agung dalam penanganan pemberdayaan advokat syariah. Hubungan peradilan agama dengan advokat syariah tidak sekedar hubungan kerja, tetapi lebih dari itu antara peradilan agama dan advokat syariah memiliki keterikatan emosional. Hal tersebut disebabkan kesamaan pandangan dan substansi keilmuan” kata pria yang menyabet doktor di Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung ini.

Mantan Ketua Pengadilan Agama Medan ini juga memaparkan bawah upaya Mahkamah Agung dalam mendukung eksistensi advokat syariah diwujudkan dalam berbagai bentuk baik perbaikan sarana prasarana peradilan maupun sumberdaya lain yang ada, serta terus berupaya mendorong adanya regulasi yang memperkuat eksistensi advokat syariah, yang diantarnya telah terlihat sejak keluarnya Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 8 tahun 1987, SEMA No. 1 tahun 1998 yang memberikan peluang bagi Sarjana Syariah untuk berkiprah sebagai Advokat. Upaya Mahkamah Agung tersebut semakin jelas dan konkrit dengan keluarnya Surat Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 73/KMA/HK.01/IX/2015 tanggal 25 September 2015 tentang Penyumpahan Advokat. Pada pokonya surat ini menghapus diskriminasi dan disparitas terhadap advokat, baik dalam dimensi organisasi maupun dalam dimensi disiplin ilmu atau gelar kesarjanaan.  Dan hal lain adalah Mahkamah Agung selalu ikut aktif sebagai narasumber dalam Pendidikan Profesi Advokat.

Oleh karenanya Amran berpesan agar APSI sebagai organisasi para Advokat Syariah agar terus memperkuat eksistensinya dan terus menjalin kerjasama dengan Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia, Perguruan Tinggi dan stakeholdel lain untuk memperkokoh sumberdaya advokat syariah.