Saturday, April 21adalahukum.com

Munir: Tangkap Dalang Penyerbuan YLBHI!

ADALAHUKUM.COM,-Jakarta. Penyerbuan Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) oleh ribuan massa memunculkan keprihatinan berbagai pihak. Direktur Pusat Mediasi dan Bantuan Hukum (PUSMEDBAKUM) DPP APSI, Syamsul Munir menyatakan sangat menyesalkan kejadian penyerbuan dan penyerangan oleh sejumlah kelompok anti pro demokrasi yang memaksakan kehendaknya sendiri serta secara membabi buta menuduh dan menfitah YLBHI sebagai antek Komunis. “  Sungguh itu cara-cara biadab, dan tentu menginjak martabat kemanusiaan, dan saya mengkhawatirkan adanya pihak-pihak yang ingin demokrasi di Indonesia semakin mundur dengan memberikan informasi palsu kepada masyarakat yang terkait dengan kegiatan LBH Jakarta sehingga semakin memperkeruh suasana” ujar mantan aktivis Kontras ini. (baca: Bela Korban First Travel, Pusmedbakum APSI Hadiri Rapat Kreditur Dalam Penyelesaian Putusan PKPU)

Menurut Munir, siapapun yang tertindak dan termarginalkan akan dibela dan diberi bantuan hukum oleh LBH tanpa memandang suku, ras, agama atau golongan manapun, dan itu dilindungi oleh Undang-undang, ada UU Bantuan Hukum, ada UU Advokat dan yang jelas ada UUD 1945 sebagai konstitusi negara yang memberikan jaminan perlindungan hukum atas semua golongan. Oleh karena atas kejadian tersebut, Polri harus segera menangkap dalang intelektual dibalik penyerangan kantor YLBHI, “Tangkap dan adili dalang penyerbuan kantor YLBHI” tegas mantan aktivis LBH Jakarta ini.

Sebelumnya, YLBHI melaksanakan konprensi pers di kantor Komnas Perempuan (18/9) yang mana menjelaskan kronologis terjadinya peristiwa penyerangan oleh kelompok masa terhadap kantor YLBHI, Konpres tersebut dibacakan oleh Muhammad Isnur, Ketua Bidang Advokasi YLBHI.

Dalam paparannya Isnur menjelaskan bahwa Minggu malam 17 September 2017 sekitar pukul 21.00 hingga Senin 18 September dini hari ratusan massa datang mengepung gedung LBH, meneriakkan ancaman mengerikan, melakukan stigma dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar, serta mencoba masuk, melempari dengan batu dan melakukan provokasi-provokasi, serta mencoba membuat kerusuhan. Sementara itu puluhan orang yang telah mengikuti acara #AsikAsikAksi(acara penampilan seni, puisi menyanyi dll dalam rangka keprihatinan atas pembubaran acara seminar sejarah yang dibubarkan oleh aparat pada Sabtu 16 November 2016) terkurung dan bertahan didalam gedung LBH-YLBHI.

LBH-YLBHI telah berulang kali menjelaskan bahwa tidak ada acara terkait PKI, aparat kepolisian mulai dari Kapolsek Menteng, Kapolres Jakarta Pusat, Kabaintelkam Mabes POLRI juga Kapolda Metro Jaya telah melakukan klarifikasi langsung, melihat semua bahan, mengawasi terus menerus dan mengakui serta menjelaskan kepada massa bahwa tidak ada acara yang berkaitan sama sekali dengan PKI atau Komunisme. Tetapi massa tidak mau mendengar dan melawan aparat.

LBH-YLBHI mengucapkan terimakasih atas respon dan perlindungan aparat Kepolisian malam ini, melindungi rekan-rekan yang di dalam gedung, menjelaskan kepada massa tentang acara yang sebenarnya, meminta massa untuk membubarkan diri, mengendalikan situasi dan bertindak tegas menegakkan hukum dan konstitusi.

Jelas hoax atau berita-berita bohong telah disiarkan, propaganda tuduhan yang mengada-ada telah diviralkan, instruksi-instruksi untuk menyerang LBH dilakukan secara sistematis dan meluas bahwa ini acara PKI, menyanyikan lagu genjer-genjer dll, padahal sama sekali tidak ada, kami khawatir ini ditunggangi oleh pihak-pihak yang menghendaki chaos dan rusuh.

LBH-YLBHI adalah rumah bagi masyarakat miskin buta hukum dan tertindas, semua kelompok mengadu dan meminta bantuan hukum. Sesuai semangat LBH, prinsip negara hukum dan kode etik profesi dan bantuan hukum, semua didampingi tanpa pandang bulu, tidak memandang suku, agama, ras, keyakinan politik, golongan dll. LBH mendampingi juga korban-korban yang distigma 65, mereka yang sama sekali tidak berafiliasi dengan PKI tapi jadi korban kemudian.

LBH-YLBHI juga jadi ruang semua untuk bertemu, menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan Nilai-nilai Hak Asasi Manusia, Demokrasi, dan Rule Of Law. Seluruh korban hak asasi manusia datang dan mendapatkan bantuan hukum, tercatat LBH-YLBHI terus memperjuangkan hak perempuan untuk berjilbab, mendampingi korban-korban peristiwa Tanjung Priok, Talang Sari dan banyak mendampingi pesantren2 atau lembaga-lembaga agama, lembaga-lembaga Islam lainnya.

Dengan ini LBH-YLBHI juga mengucapkan terimakasih atas perhatian, bantuan dan solidaritas rekan-rekan, jaringan dan sahabat-sahabat yang mensupport dan membantu dengan cara-masing-masing. Kebersamaan ini meneguhkan kami untuk terus kuat dan berjuang bersama rekan-rekan ditengah #DaruratDemokrasi ini.

Maka seperti perjuangan yang telah dilakukan selama 47 tahun ini, LBH-YLBHI tetap teguh pada visi, misi, dan nilai yang diperjuangkan. Juga mengajak semua untuk terus bergandengan tangan berjuang untuk penghormatan, perlindungan, pemenuhan hak asasi manusia, Demokrasi, dan Rule Of Law.